Pengalaman jaga yang luar biasa. Jaga “ding-ding” *istilahnya kami-kami, artinya habis jaga langsung jaga lagi,,* pas hari libur berarti jaga full siang-malam di rumah sakit. Dan karena besok hari senin, berarti bisa dibilang aku akan stay sekitar 30-an jam disana. Okay, demi bisa pulang besok pas ada hari libur I take this chance. Kebetulan lagi stase neuro, kata beberapa teman yang sudah jaga hari-hari sebelumnya jaganya “aman” dan tenang. Okay, berarti ada cukup waktu buat istirahat nantinya.
“allahuma ‘ilman nafi’a” doa wajib sebelum berangkat jaga sudah kubaca. Sambil motoran menuju rumah sakit. Bismillah, hopefully jaganya manfaat. Dan ternyata,, eng.. ing.. eng.. benar-benar full jaga. Tidak menyangka banyak pasien MRS hari itu, di bangsal juga Full keluhan. Its okay, you have to keep smile, Rhie. Well, this just about taking care of others. Semoga manfaat *yah meski sempet ngeluh juga sih,,* Meski jadi teringat ibu dirumah, yang dulu waktu menghadapi masa kritisnya, aku yang anaknya malah tidak bisa mendampingi beliau…
Hm,, back to cerita jaga. Benar-benar tidak menyangka. Banjir keluhan, pasien yang berada di dekat pasien yang mengeluh di awal, pun meminta perhatian. Beruntung ada keluhan yang dapat diselesaikan dengan edukasi, meyakinkan, dan menenangkan. Beragam kisah berkesan kulalui malam itu. Salah satunya cerita seorang ibu afasia.
Masa akutnya terlewati sudah. Cukup lama di rumah sakit. DM tidak terkontrol, dan kini stroke. Alhamdulillah sudah tampak cukup banyak perbaikan. Terutama dalam hal komunikasi. Meski beliau memang belum bisa mengatakan apa yang ingin dikatakannya, afasia motorik. Malam itu sudah begitu larut, bahkan tak kusadari malah sudah hampir habis. Seorang bapak menghampiriku, yang kemudian aku tahu bahwa dia anak dari pasien tersebut. “dok, ibu saya kenapa ya? Semalaman itu mengerang terus. Sepertinya itu beliau menangis terus. Tidak mau berhenti nagisnya dok. Kenapa ya?” *nah loh, ini yang katanya pasien lain yang sekamar jadi gak bias tidur dan mengeluh pusing @_@*
Oke, saya pun menghampiri. Ya, beliau memang menangis. Saat kutanya kenapa, tangisnya tidak berkurang. Kusentuh tangan dan kutepuk pelan, tak disangka, tangisnya semakin menjadi. Hm,, tahulah aku *walau sebenarnya sok tahu* si ibu tengah depresi karena afasianya ini. Orang-orang sekitarnya tidak paham keinginannya, dia tidak bisa menyampaikannya. Ah, lagi-lagi aku jadi ingat ibuku, masih sangat beruntung beliau bias menyampaikan padaku, menyampaikan resa frustasinya “dek, kok ibu ga sembuh-sembuh ya. Tangan kanan ibu belum bisa diangkat keatas. Ibu pengen cepet-cepet sembuh. Ibu pengen bisa masak lagi”.
Ah aku pikir pasti pasien itu jauh-jauh lebih depresi ketimbang ibuku, apalagi penyakit penyerta yang dialaminya juga bermacam- macam. Akhirnya kusampaikan saja pesan-pesan singkat, serupa dengan yang sering kusampaikan pada ibu saat aku pulang. “ ibu yang sabar ya,, sabar juga “obat” tersendiri buat stroke lho bu,,, jangan lupa banyak-banyak doa, kalau ibu sabar dan ridha insya Allah ada nilainya…”
Benar-benar berasa haru… Ah, si bapak penunggu ini. Sejujurnya aku ngiri padamu pak,,, ngiri sama bapak yang perhatian nungguin ibunya yang sakit, yang ga ngeluh meski banyak begadang, dan tahukah pak apa yang membuatku lebih iri lagi? Saat entah adik atau mungkin istrimu menelfon dari rumah, meminta supaya ibu tadi shalat malam, dan kau mengingatkan bahwa subuh sebentar lagi akan datang…

RSS Feed (xml)
0 komentar:
Poskan Komentar