Senin, 30 Juni 2008

Mengobati Kesulitan


Dalam sebuah kisah, diceritakan bahwa dahulu ada seorang bijak yang tengah ditimpa musibah. Kemudian sahabat-sahabatnya datang hendak menghiburnya. Namun dalam penderitaannya, sang bijak tetap tersenyum. Ia pun berkata kepada para sahabatnya “aku telah menyediakan obat untuk kesulitanku, yang aku ramu dari enam bahan baku.” Para sahabat kemudian bertanya “apa saja keenam bahan baku itu?” sang bijak pun menjawab “pertama, miliki keyakinan yang kuat kepada Allah. Kedua, berserah diri pada ketetapan yang pasti yang akan terjadi. Ketiga, kesabaran yang tidak ada duanya, yang dapat memberikan efek positif kepada orang yang sedang ditimpa musibah. Keempat, keimanan yang tidak tergoyahkan untuk melakukan hal-hal yang telah aku sebutkan. Sebab tanpa menunjukan daya tahan dan kesabaran, apa yang bias aku selesaikan? Kelima, bertanya kepada diriku sendiri: mengapa aku harus menjadi pelaku bagi kehancuran diriku sendiri? Yang keenam, meyakini bahwa dari satu jam ke jam berikutnya, keadaan selalu berubah dan kesulitan pun akan hilang.”

Maha suci Allah, orang bijak ini mampu mengobati dirinya sendiri sebelum datang orang lain yang menawarkan pengobatan kepadanya. Ia mampu tersenyum sebelum datang sahabat-sahabatnya untuk menghiburnya. Karena dia telah menemukan kebahagiaan bersama Tuhannya. Maka dia tidak lagi butuh dibahagiakan oleh orang lain…
(source: tarbawi)

Semangat dari sahabat

Kelulusan, bukan lagi suatu pilihan kemauan, tapi sudah menjadi keharusan bagi kita yang sudah terlanjur hidup di dunia perkuliahan. setelah sekian lama menjalani kehidupan kampus, kita harus bisa ”keluar”. Dan satu-satunya jalan keluar bagi kita adalah melalui gerbang kelulusan. Tidak ada bagi kita pintu-pintu keluar yang lain... karna hanya ada satu kata ”LULUS”. Dan sari hanya satu kata itu, akan berkembang menjadi rangkaian indah ” Aku harus Lulus dengan Nilai Bagus”

Selama sekian waktu masa perkuliahan semangat belajar tak selamanya stabil. Kadang naik, kadang turun. Karena dia memiliki fluktuasinya sendiri. Arus listrik yang kadang menguat dan kadang melemah pun butuh stabilizer sebelum berhubungan dengan alat listrik.. kita pun butuh stabilizer yang bisa menjaga kestabilan dan kuatnya arus semangat. Terkadang kita juga butuh ”pembangkit” yang bisa mengalirkan kembali besaran motivasi.

Layaknya tubuh kita, saat lemah kita perlu ”nutrisi” sedikit berlebih dari yang biasanya, bahkan terkadang butuh ”suplemen” khusus atau malahan perlu ”injeksi”. Semangat dalam diri yang melemah pun butuh penguatan.

Sahabat yang baik tentu bisa menjadi supply-ers energi tersendiri. Pun tanpa perlu berpanjang kata, kehadiran seorang sahabat bisa jadi begitu berarti, layaknya ”adrenalin” bagi orang yang dalam keadaan ”shock”. Ya, betapa berartinya.... seperti cahaya yang mampu menerangi di kegelapan malam...

Namun, seorang sahabat bukanlah seperti lilin... seorang sahabat pabila ia menyinari, pendar cahayanya tak akan pernah membuat dirinya sendiri kecil, lemah, ataulah meleleh... kekuatan persahabatan akan mampu menjaganya tegar, mampu menjadikannya kuat, dan mampu mengalirkan energi semangat...

Friends could be d’ light when u face a dark cloudy day...
Friends could raise u up when u fall down
No sorrow would be able to make ur day seem so hard when u have such a wise friends
No joy could fulfill ur day with no friends


Ayo... Semangat lagi sahabat-sahabatku!!!
Mudah-mudahan Allah meringankan langkahmu...

Allah menilai proses, tidak sekadar hasil akhir

Dalam setiap fase kehidupan, tak pernah lepas kita dari yang namanya “proses”. Setiap saat, setiap waktu selalu kita berada dalam sebuah ”proses”. Dan tentu yang kita harapkan adalah sebuah ”proses menjadi” yang lebih baik.
Dalam luasnya karunia kehidupan ini, hal yang paling penting adalah tentang bagaimana kita berproses, bukan pada hasil yang akan dicapai. Urusan kita hanyalah bagaimana kita bisa berproses dengan sebaik mungkin. Kita memang tidak pernah lepas dari pengharapan, dan salah satu harapan yang selalu terlontar adalah keinginan memperoleh hasil yang terbaik. Wajar, bila demikian. Tapi apa yang terbaik menurut Allah itu belum tentu sama dengan definisi terbaik yang ada dalam kamus hidup kita. Walhasil kadang ketidaksamaan persepsi itu berbuntut kekecewaan dan bahkan bisa berujung pada pesimisme. Padahal Allah yang lebih tahu segalanya, Dia yang lebih tahu mana yang terbaik untuk kita.. karena yang terbaik menurut kita belum tentu akan benar-benar baik untuk kita...
maka dalam hidup ini urusan kita adalah tentang bagaimana kita bisa berproses sebaik mungkin. Tentang bagaimana kita berusaha semaksimal mungkin. Dan tentang bagaimana kita mau sekuat tenaga berupaya menyempurnakan ikhtiar. Masalah hasil,, itu sudah menjadi hak prerogatif Allah, dia pasti hanya akan memberi apa-apa yang terbaik untuk kita menurut kemahaluasan Ilmu-Nya.

Dalam belajar pun demikian.
Bagi kita yang terpenting adalah bagaimana kita bisa berusaha sebaik mungkin dalam usaha menuntut ilmu. Juga tentang bagaimana kita bisa menjalani ”proses yang bersih” selama masa pembelajaran itu. Serta bagaimana kita mau mengoptimalkan potensi, jujur dalam berbuat dan bertindak, dan bagaimana kita berupaya menjaga kelurusan hati dan niat. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya,, masalah hasil, biarlah Allah saja yang menentukan.

Lulus, wisuda, mendapat gelar, dan seterusnya, merupakan suatu keniscayaan bagi kita yang tengah menikmati bangku perkuliahan. Namun apakah itu merupakan nilai patokan hasil yang kita inginkan? Tentu tidak sekadar itu. Bagi kebanyakan orang, nilai mungkin dianggap patokan, ukuran keberhasilan, tapi tidak selamanya mutlak demikian. Orang pun sering hanya melihat hasil yang sudah kita capai tanpa menilik seperti apa proses yang kita jalani, tanpa mengecek sudah benarkah langkah kita selama berproses. Akan tetapi Allah lah penilai terbaik, Dia menilai secara komprehensif, segala proses yang kita lalui tak sedikitpun lepas dari pengawasan-Nya.
Dalam belajar, yang kita cari dan ingin kita serap sebanyak-banyaknya adalah ilmu yang kita dapat selama proses perkuliahan. Tentang nilai bagus, itulah bonus.. walaupun kenyataan dalam masyarakat luas standart keberhasilan itu dilihat dari hasil yang kasat mata. Maka bagi kita tantangannya adalah bagaimana kita bisa berproses sebaik mungkin namun tetap bisa bersaing, dan bisa berprestasi sebaik mungkin!
Insya ALLAH,, Semoga Allah berkenan memudahkan.