Selasa, 15 Februari 2011

sup iga ceria


Pas lagi pulang dan liburan di rumah,, eeh nemu ada macem-macem bahan di kulkas. ada juga iga. Awalnya bingung tu iga mau dibikin apa. Berhubung ga bisa masak yang susah-susah dan yang repot,, akhirnya jadilah satu lagi masakan simple,,

Caranya iga direbus dulu sampai cukup empuk. Bebarengan dengan daging cincang. Selanjutnya bawang putih cincang dimasukan bergantian dengan labu siam dan wortel. Tambahkan lada, pala, garam, dan sedikit gula. Masukan serutan jagung manis dan daun bawang. Sajikan dengan irisan tomat, seledri, dan bawang goreng. hm,, so colorful rib soup,, sup iga ceria ^^

gampang kan ngebuatnya...

I’m in jealous

I realized I’m in jealous. I’m so jealous…

Watching their condition make me desirous to be like them. Not because of their luxurious stuff, wealth, or even about the abundant facilities they have. No, for this reason I have to be thankful to Allah that I have much better life than some other people. I’m in jealous because of their composure. They looked so great: having such cool hand, patience, knowledgeable, and most to their conviction, their iman. I just want to be like them,,,

great boy

Bener juga, selalu ada sesuatu yang didapat dari silaturahim. Dan senja hari itu menjadi senja yang berkesan untukku. Yah, kuakui aku salah waktu. Nekat sih, sore-sore menuju petang bertangdang ke rumah orang. Namanya sore kan mestinya juga rumah lagi sibuk,, tapi ya dasar nekat,,,

Waktu itu aku pikir, tak jadi masalah kan Cuma sebentar saja, pinjem modul trus langsung balik. Ternyata sebentar pun relative. Rasanya baru beberapa saat, lha kok sudah adzan maghrib. Saat itu kami tengah diskusi, aku mendenganrkan penjelasan beliau. Tiba-tiba adek kecil –kayaknya belum ada 2 tahun, bicaranya masih patah-patah- “ma, owat”. Ketika sang bunda belum menghampiri, terus saja anak kecil itu berkata “Ma, owat”, dijawab “ya nak sayang, tunggu sebentar”. Masih saja dia berkata “ma, owat” dengan lebih keras. “iya saying sebentar lagi kita sholat”.

Ups,,, masya Allah,, adek kecil ini,,, rupanya ia sudah terbiasa begitu mendengar adzan langsung bersiap-siap untuk shalat. Duh malunya aku,,,

Simple teriyaki kombinasi


Suka makan beef teriyaki di resto jepang? Rasanya khas kan? Nah, karena kepingin membuat sendiri, akhirnya coba-coba bikin beef-teri tapi yang varietas Indonesia. Bumbu-bumbu dan rempah tropis dikombinasikan dalam resep beef-teri,,,

Cara buatnya sama kayak buat bef teriyaki, Cuma bumbunya ditambah bawang putting cincang, lada, pala, cabai, jahe, sama serai,,, sesaat sebelum diangkat, masukan potongan-potongan lebar daun bawang, aduk merata. Finishing-nya masakan ditaburi irisan daun seledri dan bawang goreng.

Hm,, yummy… J

Anak masa depan

Lagi, lagi dan lagi. Kali ini bertemu dengan anak kecil sangat. Belum utuh kemampuan bicaranya. Masih ada cadel. Aku taksir umurnya paling baru menginjak angka tiga. Lebih kecil dari mas Bintang ataupun mas Abdullah, dua keponakanku. Usia yang sebenarnya usia emas buat pendidikannya, buat perkembangan otaknya. Juga usia saat anak lucu-lucunya. Pasti menggemaskan melihat anak-anak seumuran itu. Tapi dia sunguh berbeda,,,

Aku tidak melihat pengantarnya. Tapi aku yakin dengan sangat dia tidak sendiri. Dia sepertinya sedang dimanfaatkan. Dia datang secara tiba-tiba saat kami tengah makan. Dia mengulurkan tangannya, dalam posisi supinasi, formasi klasik yang berarti “saya minta, please kasih saya”. Bingung tentu saja. Seorang teman bergegas mencari sesuatu, aku tahu pasti dompet. Sebelum diberikan, aku menahan bocah itu dengan Tanya. Standart saja, aku hanya bertanya tentang dia dan apa dia sekolah. Diluar dugaan, dia tidak menjawab pertanyaanku dengan baik. Dia hanya mengulang rangkaian kata yang sepertinya disuruh menghapal. Sama sekali tidak lancer dan tidak spontan. Tidak juga dengan muka ceria. Pada intinya dia bilang rumahnya sangat jauh, dia datang dengan bus, dan tidak punya uang untuk pulang. Kisah yang menyedihkan sangat. Siapa yang tidak trenyuh mendengarnya.

Tapi itu menurutku tidak masuk akal. Pun misalkan ternyata dia berkata benar, kemana orang tua yang bersamanya? Tega sekali. Jika mau dikata dia sendiri dan kesasar, bah tak mungkin,, mana ada anak kecil polos imut-imut yang tiba-tiba kemikiran meminta-minta?

Masya Allah,,,,

Apa gerangan yang terjadi dengan duniaku? Ah, apa aku terlalu berburuk sangka pada mereka? Seperti biasa, aku tidak tahu jawabannya… aku hanya bisa mengasumsi dan bermain dengan gambaran dalam pikiranku…

Ah, semestinya anak itu dilindungi,,, semestinya anak itu belajar dirumah,,, semestinya anak itu sedang asyik bermain menghabiskan hari,,, semoga kehidupanmu sekarang tidak tertanam dalam benakmu, tidak tertanam sebagai kehidupan yang harus kau jalani sepanjang hidup. Ada banyak jalan, dan kuharap kau bisa menemukan salah satu jalan yang membebaskan jiwamu berkembang.

Please show them Your right path oh Rabbi,,,

Lemah

Duh payahnya..

Terasa payah saat lagi lemah begini. Kalo lagi lemah badan bin lemes terkadang mau apa jadi rada males. Badan berasa gak karuan, rhinorea, apalagi kalo udah ketambahan meriang. Namun tetep ada yang juga payah meski badan lagi sehat wal afiat, bahkan lebih parah dari sekadar payah. Yakni saat grafik iman lagi jalan menurun. Duh,, duh,, rasanya kalo dapet apa-apa yang kurang pas, jadi langsung berasa ga sreg di hati. Bawaannya mau ngeluh aja. Bener-bener payah,,,

It is easier to think negative then to try understanding the situation even less think positively… beuh begitulah kalo hati lagi kurang tertata,,,

Memang benar kata orang, iman dan kekuatan hati juga kondisi jiwa dan ruhiyah itu harus selalu dijaga… kalo orang iman kan bisa apa-apa disyukuri, kalo pas lagi dapet yang bagian kurang beruntung ya sabar. Jadi orang iman itu tenang, yakin kalau apa-apa yang didapat dan dialami pasti jalan terbaik, asal sudah berusaha semaksimalnya…

Ayo Rhie, semangat.. jangan kebanyakan ngeluh,, jangan kebanyakan ngomong yang ga guna…

Rabu, 15 Desember 2010

Pada sangka

Kepercayaan adalah dasar. Bagaimanakah mungkin ada harmony tercipta tanpa rasa percaya..

Kepercayaan adalah dasar. Bagaimanakah mungkin ada ketenangan ada kedamaian bila percaya tak dibangun pada awalnya,,

Lantas dengan apa bisa kutumbuh kepercayaan bila bukan dengan pengetahuan? Rasanya tak cukuplah persangkaan saja..