Selasa, 15 Februari 2011

Cerita dari 'ding-ding'


 Jaga “ding-ding” -istilah yang kami pakai diantara sesama koas, artinya langsung jaga lagi setelah jam jaga usai, atau bisa dibilang jaga 2 hari berturutan-  selalu kedengaran 'WOW! Maknyuss!" bagaimana tidak? Aku akan stay sekitar 30-an jam lebih di Rumah Sakit. Makan, mandi, dll semua disana. Baiklah, demi bisa mudik pas hari libur pekan depan, gapapa-lah dapet tukeran nya yang "ding-ding" kaya gini. Ok, I take this chance (selalu semangat kalo ada embel-embel bisa mudik, eh numpang bobok di rumah). Toh kebetulan lagi stase neuro, kata beberapa teman yang sudah jaga hari-hari sebelumnya jaganya “aman” dan tenang. Siplah, berarti akan ada cukup waktu buat istirahat nantinya.

Dan saat jaga pun tiba,
Allahuma ‘ilman nafi’a” doa wajib sebelum berangkat jaga sudah kubaca. Sambil motoran menuju rumah sakit. Bismillah, hopefully jaganya manfaat. Dan ternyata,, eng.. ing.. eng.. 100% tidak menyangka sama sekali, tiba-tiba banyak pasien MRS hari itu. Panggilan IGD bertubi-tubi,  di bangsal ternyata juga full keluhan. Its okay, you have to keep smile, Rhie. Well, this just about taking care of others. Semoga manfaat (InsyaAllah berkah) *yah meski sempet ada fase ngeluhnya juga sih,, :D* 
Ah, jadi teringat ibu dirumah, dulu waktu waktu beliau opname dan tengah menghadapi masa sulitnya , aku yang anaknya malah tidak bisa full mendampingi :'(

Hm,, back to cerita jaga. Benar-benar pengalaman luar biasa. Banjir keluhan, bahkan berentetan dan berurutan. Tadinya 1 pasien yang mengeluh, belum ada selang satu jam, pasien bed-nya seberangnya gantian meminta perhatian. Belum lagi pasien dari kamar lain yang juga memanggil. Beruntung ada keluhan yang dapat diselesaikan dengan edukasi, meyakinkan, dan menenangkan. Beragam kisah berkesan kulalui malam itu. Salah satunya cerita seorang ibu afasia.

Dia, ibu-ibu yang bilangan usianya cukup untuk dikatakan sepuh, sudah dalam perawatan hari kesekian. dulunya gula, tidak terkontrol, dan kini stroke. Alhamdulillah sudah tampak cukup banyak perbaikan. Terutama dalam hal komunikasi. Meski beliau memang belum bisa mengatakan apa yang ingin dikatakannya, afasia motorik. Malam itu sudah begitu larut, bahkan tak kusadari malah sudah hampir habis. Seorang bapak menghampiriku, yang kemudian aku tahu bahwa dia anak dari pasien tersebut. “dok, ibu saya kenapa ya? Semalaman itu mengerang terus. Sepertinya itu beliau menangis terus. Tidak mau berhenti nagisnya dok. Kenapa ya?” *nah loh, ini yang katanya pasien lain yang sekamar jadi gak bias tidur dan mengeluh pusing @_@*
Oke, saya pun menghampiri. Ya, beliau memang menangis. Saat kutanya kenapa, tangisnya tidak berkurang. Kusentuh tangan dan kutepuk pelan, tak disangka, tangisnya semakin menjadi. Hm,, tahulah aku *walau sebenarnya sok tahu* si ibu tengah depresi karena afasianya ini. Orang-orang sekitarnya tidak paham keinginannya, dia tidak bisa menyampaikannya. Ah, lagi-lagi aku jadi ingat ibuku, masih sangat beruntung beliau bias menyampaikan padaku, menyampaikan resa frustasinya “dek, kok ibu ga sembuh-sembuh ya. Tangan kanan ibu belum bisa diangkat keatas. Ibu pengen cepet-cepet sembuh. Ibu pengen bisa masak lagi”.
Ah aku pikir pasti pasien itu jauh-jauh lebih depresi ketimbang ibuku, apalagi penyakit penyerta yang dialaminya juga bermacam- macam. Akhirnya kusampaikan saja pesan-pesan singkat, serupa dengan yang sering kusampaikan pada ibu saat aku pulang. “ ibu yang sabar ya,, sabar juga “obat” tersendiri buat stroke lho bu,,, jangan lupa banyak-banyak doa, kalau ibu sabar dan ridha insya Allah ada nilainya…”
Benar-benar berasa haru… Ah, si bapak penunggu ini. Sejujurnya aku ngiri padamu pak,,, ngiri sama bapak yang perhatian nungguin ibunya yang sakit, yang ga ngeluh meski banyak begadang, dan tahukah pak apa yang membuatku lebih iri lagi? Saat entah adik atau mungkin istrimu menelfon dari rumah, meminta supaya ibu tadi shalat malam, dan kau mengingatkan bahwa subuh sebentar lagi akan datang…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar